![]() |
| Sumber: google.com |
Kita tahu bahwa psikolog dan psikiater merupakan seseorang yang bekerja di bidang yang menanggulangi mental dan masalah kejiwaan.
Tapi, kedua pekerjaan tersebut ternyata berbeda dan memiiki
tanggung jawabnya masing-masing dalam menanggulangi pasien.
Menurut Liza Marielly Djaprie, M.Psi, CH, kedua pekerjaan
tersebut berbeda secara teorinya. Psikiater, merupakan lulusan kedokteran di
mana sehabis lulus mereka mengambil spesialis psikiatri.
"Mereka punya kemampuan untuk meramu dan meresepkan
obat. Mereka cara menyembuhkan pasiennya dengan cara holistik, dan memberikan
obat," katanya ketika ditemui AkuratHealth di acara End the Shame di
Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu, (19/10).
Sementara, jika psikolog, mereka lebih menanggulangi dengan
cara memberikan solusi, kemudian mengajak terapi hingga mengbrol bersama hingga
memberikan sebuah pekerjaan rumah yang harus pasien lakukan.
"Mereka lulusan psikolog yang membantu proses penyembuhan
dengan memberikan terapi ataupun konseling," jelasnya.
Lalu, bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dirinya harus ke
psikiater terlebih dulu atau ke psikolog?
Jadi, ketika seseorang stres karena mungkin sehabis diputus
pacar atau masalah pekerjaan sebenarnya bisa diatasi dengan ikut konseling
ataupun terapi.
Tapi, jika efek buruk tersebut berlanjut sampai pada titik di
mana ia tidak bisa tidur, tidak makan sampai berhari-hari, seseorang ini butuh
yang namanya pertolongan lain, yaitu pergi ke psikiater.
"Nanti di sana psikiater tersebut akan memberikan solusi
atau, bahkan memberikan obat. Biasanya, seseorang tersebut yang diharuskan
lebih peka dan memberikan penilian terhadap diri. Mana yang perlu harus dibawa
ke psikiater atau ke psikolog," tukasnya.
Sumber: akurat.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar