Minggu, 20 Oktober 2019

Mengapa Makan Terasa Lebih Nikmat Dalam Keadaan Lapar? Ini Jawabannya

Sumber: google.com


Jika Kamu bertanya-tanya, mengapa makan terasa lebih nikmat dan lezat ketika dalam keadaan lapar, sebuah penelitian baru dari Institut Nasional untuk Ilmu Fisiologis di Jepang, akan menjawab pertanyaan tersebut.

Dilansir dari MindBodyGreen, penelitian ini melakukan eksperimen terhadap tikus dan menemukan bahwa ada dua sirkuit saraf spesifik yang bertanggung jawab atas kondisi makan lebih nikmat ketika lapar.

Tikus yang sebelumnya berpuasa memiliki preferensi besar terhadap hal-hal manis dan mengalami penurunan sensitivitas terhadap rasa yang sebelumnya tidak disukai, yang biasanya datang dari makanan dengan rasa pahit atau asam.

Para peneliti menemukan bahwa tipe sel otak spesifik, yaitu Agouti-related peptide (AgRP), bertanggung jawab atas perubahan minat pada rasa yang disebabkan oleh rasa lapar.

"Neuron yang mengeskresikan AgRP ditemukan dalam hipotalamus yaitu daerah otak yang memegang peran penting dalam mengatur nafsu makan," kata penulis utama studi, Ou Fu.

Tim mengaktifkan neuron-neuron itu dengan sengaja dan mengamati apakah mereka memengaruhi persepsi rasa setelah berpuasa. Hasilnya, menunjukkan bahwa setelah neuron AgRP diaktifkan, neuron glutamat di hipotalamus menyebabkan perubahan rasa di dua jalur yang berbeda.

Pertama, neuron glutamat yang terproyeksikan ke dalam septum lateral, bagian otak yang terkait dengan sinyal meningkatkan minat pada rasa manis.

Kedua, neuron glutamat yang terproyeksikan ke dalam habenula lateral, bagian otak yang biasanya diaktifkan oleh peristiwa yang tidak menyenangkan bekerja untuk mengurangi sensitivitas tikus terhadap rasa pahit.

"Langkah selanjutnya adalah menyelidiki apakah jalur neuron hipotalamus berubah dalam kondisi patofisiologis, seperti diabetes dan obesitas," kata penulis lainnya dalam studi ini, Yasuhiko Minokoshi.

Para peneliti berharap dapat mengembangkan cara untuk mengontrol preferensi rasa. Terutama untuk menangkal penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup dan pola makan.

Mengingat fakta bahwa saat ini dunia menghadapi wabah diabetes dan obesitas, temuan ini bisa memberi dampak kesehatan yang besar.




Sumber: akurat.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar